Ketika “rasionalitas” digugat sebagai sebentuk perkara lokal dan bukan perkara universal, sebab sebelumnya rasionalitas adalah pengungkungan segala hal di luar kategori-kategori dan syarat-syarat rasionalitas. Kebenaran digugat sebagai perkara subjektifitas atas “kehendak untuk berkuasa”. Artinya, kategori dan syarat rasionalitas dikonstruksi sebagai wujud “kehendak untuk berkuasa” dalam merumuskan kebenaran. Dari rahim rasionalitas modern lahir “narasi besar” atau “meta wacana” seperti kemajuan, kebebasan akal, kesadaran, emansipasi, dialektika, dan seterusnya sebagai sebentuk legitimasi terhadap klaim ilmu pengetahuan. Postmodernisme melahirkan perbedaan dan ketidakpercayaan pada segala hal yang berbau narasi besar. Ada upaya untuk mengubur rasionalitas modern. Ia hanya bersifat sementara dan konvensional saja. Gugatan terhadap rasionalitas meniscayakan runtuhnya epistemologi sebagai teori ilmu pengetahuan. Epistemologi sebagai tambatan dalam menjaring kebenaran tersingkap dan menimbulkan tanda tanya tentang hubungan “subjek” dengan “realitas”. Bagaimana posisi subjek dalam mendefinisikan realitas? Dan bagaimana kesadaran manusia sebagai konstruksi ideologi dan struktur sosial? Tulisan ini hendak (semoga) menyuguhkan sesuatu yang berbeda dalam meneropong atau mungkin membongkar posisi manusia sebagai subjek yang mungkin merasa sangat superior.
Ketegangan ilmu pengetahuan selama ini menimbulkan tanda tanya besar sebagai reaksi atas identitas ilmu pengetahuan yang positivistik. Descartes, Kant, Locke, Comte dan sederet nama lainnya memberi pijakan pada berlangsungnya proses pembunuhan manusia sebagai gejala pemberhalaan ilmu pengetahuan positif sebagai satu disiplin yang menjadi ukuran kebenaran. Maka, kebenaran apapun dengan memakai perangkat ilmu keras perlu dipertimbangkan validitasnya sambil memposisikan manusia sebagai mahluk unik dalam dunia penghayatan.
Kesadaran Nihilistik
Hilangnya jaminan kepastian dari ucapan Nietzsche “Tuhan sudah mati! Tuhan terus mati! Kita telah membunuhnya” (“Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getotet!”) adalah sebongkah perlawanan kepada segala jaminan kepastian seperti Tuhan (Tuhan tidak benar-benar mati kok) dan sejenisnya seperti ilmu pengetahuan, rasio, prinsip-prinsip logika, sejarah dan kemajuan (progres). Gejala nihilistik tercium ketika kuasa (Foucault) atau kepentingan (Habermas) memposisikan diri sebagai determinan utama dalam membongkar kebenaran objektif. Kuasa memporak-porandakan segala privilese ilmuan, ulama/pendeta, birokrat, dan siapapun. Cuma Foucault berbaik hati untuk tidak serta merta menuduh segala kuasa negatif adanya, tapi kuasa perlu dilihat sesuatu yang positif dan produktif.
Kesadaran, yakni kemampuan subjek untuk memahami “Ada” tidak mungkin bersifat netral. Pijakan anti-humanisme (Foucault) menilai kesadaran manusia sebagai hasil konstruksi kuasa. Maka, di mana lagi kita menempatkan posisi manusia sebagai subjek yang berkesadaran, kalau “akal universal” tidak universal lagi atau nalar (pembentuk dan terbentuk) tertentu tidak permanen lagi. Apakah gejala nihilistik ini akan membuat panik dan menimbulkan rasa ketidakpastian? Belum tentu, karena manusia seharusnya berusaha untuk mencipta nilai dan melakukan pembalikan nilai.
Pertanyaan di atas mudah-mudahan bisa sedikit terobati dengan mengambil posisi jalan tengah (jika memang ada) antara kesadaran sebagai konstruksi kuasa (perspektif Foucaultian) dengan karakter dasein sebagai penyingkap fenomena “Ada” (perspektif Heideggerian). Masih adakah ruang kontestasi bagi subjek untuk menemukan dirinya yang otentik.
Fenomenologi (mencandra keseharian)
Betul bahwa manusia tidak pernah sampai pada “Ada” yang sesungguhnya. Kesadaran ontologis dasein selalu terpecah. Jalan untuk mencandra keseharian tetap terbuka lebar. Heidegger memandang posisi Ada lebih utama dari pada kesadaran, dan kesadaran adalah cara Ada menampakkan diri. Ungkapan “cogito ergo sum” adalah kelupaan akan “Ada” atau sum. Kelupaan ontologis ini meninggikan subjek berfikir atau berkesadaran sehingga yang tidak dipikirkan sebenarnya tidak ada.
Jalan untuk menjernihkan “Ada” adalah dengan membiarkan “Ada” menampakkan diri pada dirinya sendiri. Tidak ada pemaksaan penafsiran atas “Ada”. Tapi, tidak seluruh “Ada” menampakkan diri, karena dalam penampakannya “Ada” menyembunyikan diri. Fenomenologi dipakai untuk menunjukkan “Ada” yakni dengan membiarkan “Ada” terlihat. Apakah setiap orang mampu menyingkap “Ada”?. Menafsirkan dan menghayati fenomena eksistensial hanyalah pekerjaan untuk orang yang menyadari bahwa dia ada dan bermukim di dalam dunia.
Keutamaan “Ada” daripada kesadaran tidak memberi ruang bagi dasein sebagai penyingkap dan mencandra keseharian yang sarat dengan penipuan realitas atau realitas Hyper (Boudrillard). F. Budi Hardiman menyebut realitas masyarakat modern sebagai masyarakat Nomad metropolis yang tidak menyadari ketakberumahan eksistensial mereka.
Namun, Heidegger sepertinya masih terjebak pada perkara kesadaran subjektifitas untuk menyingkap sang Ada. Dia menyisakan harapan seperti yang dilakukan eksistensialis lainnya mengenai karakter intensionalitas kesadaran, harapan akan datangnya dasein yang otentik.
Rezim Wacana
Kesadaran memang tak semurni anggapan Husserl secara intensional. Konstruksi kesadaran manusia pasti dipengaruhi oleh pra-anggapan yakni kondisi psikologis masa lalu. Kuasa manerobos masuk di ranah kesadaran dalam bentuk mekanisme penetapan bentuk berpikir dan pengetahuan dengan kata lain setiap rezim wacana dan kebenaran menentukan atau mempengaruhi pola berpikir manusia pada tempat dan waktu tertentu. Proses formasi diskursif atau episteme secara fundamental berdasar pada wacana dan kebenaran. Karena itu, ia merupakan suatu bentuk berpikir yang tidak sadar, secara objektif mutlak, dan anonim. Manusia tidak sepenuhnya sadar. objek pengetahuan bukannya sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang dibentuk, dan manusia adalah objeknya.
Maka, masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu berbagi kesadaran yang sama oleh rezim wacana dan kebenaran. Letak perbedaan Foucault dan Heidegger terletak pada posisi penempatan subjek. Foucault seperti kaum strukturalis lainnya manempatkan subjek sebagai bagian dari struktur. Mereka menolak prioritas kesadaran dan takluk di bawah sistem. Subjektifitas merupakan buah hasil suatu proses strukturasi yang tidak dikuasai oleh manusia.
Harapan munculnya subjek otonom dengan kesadaran otentik terasa nihil adanya. Yang dimaksud kesadaran otentik disini adalah kesadaran murni subjek untuk menentukan dan mengambil jarak dengan objek tanpa dipengaruhi oleh objek itu sendiri. Karena tidak ada kesadaran murni, maka setiap produk pengetahuan manusia apakah itu filsafat, teologi, epistemologi (teori pengetahuan) dan seterusnya pasti terekam dalam suatu konteks ruang kesadaran historis yang sama walau sekecil apapun.
Jika subjek berkesadaran (kesadaran murni) ditolak dan manusia bukan lagi pusat, maka subjekpun adalah hasil konstruksi sesuatu yang berada di luar subjek. Jadi apa lagi sih! yang menjadi pusat?
Fenomena Bahasa
Subjektifitas sebagai proses strukturasi yang tidak dikuasai oleh manusia menggeser manusia dari pusatnya dan digantikan dengan pusat yang lain yang bernama “bahasa”. Mengapa bahasa? Karena bahasa dianggap sebagai suatu sistem trans-individual dan manusia perseorangan harus takluk pada sistem itu.
Bahasa bekerja dalam ruang psike dalam suatu hukum keteraturan. Jacques Lacan menilai bahwa alam bawah sadar terstruktur sebagai sebuah bahasa, artinya alam bawah sadar hanya ada setelah mempelajari bahasa. Bahasa kemudian memiliki fungsi sosial sebagai bukan semata-mata fungsi “representasi” realitas tetapi larut dalam dunia tanda, metafor dan simbol. Selanjutnya Levi Strauss melakukan pekerjaan lapangan di antara orang-orang Indian-Brazilia untuk menganalisis tentang larangan incest yang dilandasi oleh fenomena hukum tata bahasa yang menguasai setiap orang sehingga baginya selalu ada keteraturan yang mengusai pikiran dan perbuatan manusia sekalipun tidak disadari betul.
Bahasa jika disederhanakan hanyalah proses interaksi antara pikiran, dunia dan kata-kata. Bahasa sebagai media komunikasi tidak sekedar sebagai bunyi (suara), ia adalah tanda atau tanda-tanda linguistik. Tanda yang memiliki sisi ganda, sebagai signifier (penanda) misalnya kata atau bunyi dan sidnified (petanda) atau konsep. Hubungan antara signifier dengan sidnified bersifat arbitrer (oposisi biner). Walaupun tanda linguistik bersifat arbitrer namun, identitas nilai ide atau konsep mental (petanda) hanya akan terjelaskan dengan menggunakan bunyi (bunyi sebagai kata) atau penanda dan tak mungkin terjelaskan dengan menggunakan ide atau petanda yang lain. Kerumitan ini akan terjelaskan ketika petanda dipandang sebagai sekumpulan atau serangkaian penanda yang membentuk petanda. Jadi, petanda adalah penanda itu sendiri.
Jika Lacan menilai bahwa alam bawah sadar terstruktur sebagai sebuah bahasa., apa yang dimaksudkannya sama dengan fakta bahwa alam tak sadar bekerja melalui metafora-metafora dan tanda-tanda serta perwakilan (representasi).
Bahasa sebetulnya tidak sekedar memiliki fungsi deskriptif dan representasi belaka, (meminjam istilah Heidegger) bahwa bahasa memiliki fungsi metafor sebagai rumah tempat tinggal sang “Ada”. Dengan bahasa, makna kemudian menampakkan diri kepada manusia.
Kalau kita bertanya, bagaimana nasib segala unsur transenden di luar bahasa atau kesadaran (maksudnya yang tak terbahasakan dan tak disadari karena kesadaran manusia terbatas), karena ada anggapan bahwa bahasa tidak cukup mampu menampung segalanya seperti Wittgenstein yang menyarankan “Tentang apa yang tidak bisa kita bicarakan, kita harus diam”. Bahasa transenden adalah wujud kekaburan fungsi deskriptif bahasa dalam menggambarkan atau mendeskripsikan sesuatu. Jadi, sebetulnya bukanlah bahwa kenyataan transenden itu tidak bisa dirumuskan melainkan hal yang transenden itu adalah sebutan kita untuk menunjuk batas derkriptif bahasa. Singkatnya, manusia memerlukan kekurangan bahasa sebagai justifikasi atas ketakmampuannya untuk mengungkap misteri sang “Ada”.
Karena tidak ada sesuatu di luar bahasa, dan dengan bahasa, makna kemudian menampakkan dirinya maka, posisi kesadaran manusia harus takluk di bawah kendali sistem tata kebahasaan. Benarkah demikian? Dan apakah tiang pancang anti-humanisme tak tergoyahkan lagi?
Akhir Kesadaran
Terlalu dini untuk menuduh bahwa manusia tidak memiliki kesadaran dan harus takluk di bawah kendali bahasa. Tetapi kekuatan agrumentasi tersebut setidaknya mampu melakukan pemetaan posisi kesadaran manusia dalam konsep struktur untuk sekarang. Kesadaran manusia adalah hasil konstruksi ideologi dan struktur sosial lewat “bahasa”. Dan dengan bahasa imperialisme epistemologi modern kemudian menemukan medium yang cocok untuk mendominasi melalui wacana dan wacana kemudian pertama-tama harus dilihat sebagai bahasa yang dibicarakan secara terus-menerus sadar atau tidak.
Mencari solusi dari benang kusut ini sama saja dengan menceburkan diri ke dalam suatu diskursus yang tidak jelas ujung pangkalnya. Usaha untuk mencari konsep dasar dari setiap zaman yang mengkonstruksi kesadaran sepertinya hanya bisa dilakukan ketika melampaui suatu realitas historis zaman tertentu yang sebelumnya tidak mampu diungkap dan dieksplisitkan pada masa itu sendiri. Sehingga bahasa sebagai kerangka episteme mungkin akan terisolasi dan diganti dengan konsep dasar lain, entah kapan?
Daftar Bacaan
Abidin, Zainal, Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat, Bandung: Rosda, 2000.
Bertens. K. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996.
F. Budi Hardiman. Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit . Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.
FX. Rudi Gunawan, Mendobrak Tabu: Seks, Kebudayaan dan Kebejatan Manusia, Yogyakarta: Galang Press, 2000.
Gordon, W. Terrence. Saussure Untuk Pemula, Yogyakarta: Kanisius, 1996.
K.B. Konrad, S.V.D., Michel Foucault : Parrhesia dan Persoalan Mengenai Etika. Jakarta: Obor, 1997.
Sarup, Madan, Post-Strukturalism And Post-Modernism: Sebuah Pengantar kritis, Yoçyakarta: Jendela, 2003.
joko Suyono, Seno, Tubuh Yangf rasis; Telaah Kritis Michel Foucault atas Dasar-dasar Pembentukan Diri Kelas Menengah Eropa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Lanskap Zaman, 2002.
ST. Sunardi. Nietsche. Hal. 23
Ada (being) adalah gagasan Heidegger dalam Sein un Zeit (“Ada dan Waktu”) untuk menggambarkan manusia modern yang dihinggap suatu gejala yang disebut “lupa akan makna Ada”. Misalnya dalam tingkat teoritis, lupa akan makna Ada ditandai oleh keengganan para ahli dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan untuk mempertimbangkan masalah nilai dan makna eksistensial manusia dalam asumsi-asumsi filsafat dan teori-teori ilmiah mereka.
Kuasa yang dimaksud Foucault adalah suatu situasi strategik yang kompleks dalam suatu masyarakat (relasi antar manusia) yang mengandung kuasa (power). Foucault tidak menjawab apa itu kuasa, tapi pertanyaan bagaimana kuasa itu dilakasanakan dan diemban. Gagasan ini introduksi dari Nietzsche sebagai kehendak manusia untuk berkuasa (will to power).
Dasein adalah sebutan Heidegger untuk manusia, manusia adalah da (di sana) sein (ada),manusia adalah “ada” yang menemukan dirinya terlempar di sana yaitu ruang waktu tempat hidup dan bersibuk.
F. Budi Hardiman. Heidegger dan Mistik Keseharian. Hal 29
Husserl memandang kesadaran sebagai aktivitas menyadari yang mengarah kepada sesuatu yang disadari (intensional). Tak pernah ada kesadaran kosong, nol, kesadaran tanpa objek intensional. Kesalahan Husserl adalah corak idealistik pada fenomenologi yang dikembangkannya untuk “kembali kepada sumber”, yang semula terdapat pada objek, kemudian diarahkan kepada sumber yang lain yakni subjek atau kesadaran.
K.B. Konrad, S.V.D Michel Foucault : Parrhesia dan Persoalan Mengenai Etika. Hal. 65
Bertens. K. Filsafat Barat Prancis. Hal 221
FX. Rudi Gunawan. Mendobrak Tabu : Seks, Kebudayaan dan Kebejatan Manusia Hal. 41