Monday, April 03, 2006

Mitos Konsumsi/KONSUMSI MITOS

Sapere Aude!”, beranilah berfikir sendiri, pakailah otakmu. Seruan yang pernah dikumandangkan oleh Immanuel Kant agaknya relevan untuk diteriakkan kembali. Bagaimana tidak, di tengah gemuruh dan hiruk pikuknya tatanan masyarakat yang berdiri di atas nafas modernitas, kita menemukan segunung konsekwensi-konsekwensi yang menjerumuskan manusia kembali ke dalam suasana yang membunuh rasionalitas. Memuja tubuh dan hasrat, menenggelamkan nalar, kekerasan dan totalitarianisme, sifat konsumtif dan entah apa lagi prilaku patologis yang bertolak belakang dengan semangat pencerahan. Semangat yang awalnya membebaskan manusia dari mitos tradisi dan dogmatisme, ternyata bermetamorfosis menjadi mitos modern yang tidak kritis terhadap dirinya sendiri.

Objek telaah tulisan ini diawali dengan upaya untuk menggambarkan realitas kebudayaan masyarakat postmodern atau pascamodern yang sebenarnya tidak rasional dalam kerangka penciptaan kebudayaan massa. Dan bagian akhir analisis kita akan sampai pada suatu kondisi dimana ideologi tidak lagi memegang peranan penting dalam memetakan kerangka perbedaan masyarakat bahkan individu secara politis, ekonomi, sosial, budaya, seni bahkan agama sekalipun.

Masyarakat Konsumsi

Salah satu isu yang sangat menarik untuk dielaborasi dari beragam wacana kontemporer dalam masyarakat modern adalah adanya pergeseran sistem kebudayaan masyarakat modern ke sistem kebudayaan masyarakat postmodern. Kondisi postmodern sebenarnya adalah wajah modernisme itu sendiri yang lebih radikal, atau seperti dalam pemahaman Habermas sebagai satu tahap dari proyek modernisme yang memang belum selesai. Masyarakat postmodern ditandai dengan perubahan orientasi masyarakat yang lebih mementingkan konsumsi, sehingga biasa juga disebut dengan masyarakat konsumsi.

Masyarakat konsumsi adalah masyarakat yang dibentuk dan dihidupi oleh konsumsi, yang mendorong hasrat untuk selalu dan selalu membeli. Barang yang dibeli tidak lagi dinilai sebagai objek yang memiliki manfaat “nilai guna” atau “nilai tukar” seperti dalam pemahaman Marx, tetapi karena memiliki “nilai tanda” dan “nilai simbol” (Baudrillard). Nilai tanda dan nilai simbol tersebut adalah ekspresi gaya dan gaya hidup, prestise, kehormatan, dan kemewahan yang diperoleh atau yang melekat dalam barang konsumsi ketika barang tersebut dikonsumsi.

Dengan argumentasi seperti ini anda tentu mengerti bahwa objek atau barang konsumsi mulai dari pakaian, mobil, makanan, ponsel, sabun mandi dan seterusnya akan mencerminkan identitas diri si pemakai. Melalui objek barang konsumsi ini seseorang akan menemukan makna dan eksistensi dirinya. Masih ingat dengan bunyi iklan “Hari gini, nggak punya hand phone!”, seakan menggambarkan bahwa ketika tak memiliki hand phone maka anda diindikasikan sebagai orang yang ketinggalan jaman atau kolot, bahkan mungkin tinggal anda yang tidak memiliki hand phone (ponsel) di tengah kerumunan massa.

Ada apa ini? kita seperti memasuki suatu tatanan baru masyarakat tanda. Masyarakat yang kehilangan eksistensi dirinya yang tergantung pada objek luar yang membentuk identitas diri. Kaya/miskin, gaul/kuper, maju/kolot, modern/tradisional, dan beragam cara untuk membedakan identitas masyarakat. Yang pertama mengindikasikan sebagai golongan yang memiliki status, prestise, ekspresi gaya dan gaya hidup, kemewahan dan kehormatan, sementara yang kedua merupakan golongan yang sebaliknya.

Adanya pergeseran nilai yang terjadi seiring dengan perubahan karakter dalam masyarakat postmodern ini secara perlahan-lahan akan menggiring siapapun ke dalam kondisi homogenitas budaya. Di mana manusia dalam hal ini sebagai subjek yang otonom akan kehilangan karakter khas yang membedakan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Tanda dan simbol akan menyatukan manusia ke dalam satu tatanan nilai, yakni nilai yang mementingkan gaya hidup, bersifat permukaan, dan memuja penampakan.

Matinya Ideologi

Gagasan kematian ideologi lebih identik dengan isu akhir dari sejarah (The End of History) yang pernah dilontarkan oleh Fukuyama sebagai isyarat berakhirnya perang dingin. Kematian ideologi adalah kondisi di mana dunia akan disatukan dalam satu bendera kapitalisme dan demokrasi liberal. Wacana multikulturalisme dan pluralisme hanya topeng sesaat yang menipu untuk menimbulkan histeria kemenangan dan keterbukaan, yang pada sisi lain justru menunggu gelombang dasyat (tsunami) kebudayaan kapitalisme yang meluluhlantakkan tatanan kebudayaan lain. Perbedaan dari setiap bentuk kebudayaan akan tergusur dan ideologi dengan wajah yang lain akan berubah menjadi lebih cerdik dan licik dalam melakukan ekspansi ke seluruh belahan dunia manapun atas nama modernisasi.

Ideologi menurut Althusser bukan hanya pelembagaan ide-ide, tapi juga praktek material. Praktek material yang dimaksud adalah segala bentuk aktivitas yang diartikulasikan oleh sekelompok manusia tertentu terutama yang berkaitan dengan aktivitas gaya hidup, mulai dari model pakaian, gaya rambut, cara berjalan, sampai makanan. Sekelompok manusia tertentu inilah yang terdiri dari artis, model, perancang busana, pekerja media dan lain sebagainya yang me-reproduksi tanda dan simbol. Yang melakukan pendefinisian tentang gaya hidup apa yang boleh dan tidak dilakukan.

Maka, setiap manusia secara ideologis telah dan pasti dibentuk dalam kerangka ideologis tertentu. Argumentasi atau alasan di atas akan bersinergi dengan definisi ideologi lainnya yang dikemukan oleh Roland Barthes, bahwa ideologi bekerja pada level konotasi atau makna sekunder yakni makna yang disembunyikan yang lahir dari praktik sosial pertandaan. Makna sekunder yang dimaksudkan adalah makna yang diperoleh atau didapatkan dalam praktek gaya hidup.

Efek homogenisasi budaya yang dibentuk oleh ideologi menciptakan model manusia satu dimensi. Inilah, seperti yang dikemukakan pada awal tulisan ini kondisi berulang atau lahirnya kembali mitos baru, yang sebenarnya sama dengan mitos yang dahulu disingkirkan. Di sinilah apa yang pernah dilontarkan oleh Kant agaknya relevan untuk diteriakkan kembali.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home