Thursday, June 22, 2006

Menafsir Sepak Bola

Menyatu dalam Mimpi

Saya ingin bermimpi, jadi pemain bola terkenal sekelas David Bechkam atau Ronaldinho. Jadi sorotan media dan publik. Membawa negara ke ajang Piala Dunia. Ini memang sekedar mimpi bagi saya yang sudah dimakan umur. Tapi, bagi anak-anak, sepak bola adalah mimpi, cita-cita, arahan masa depan. Bayangkan masa depan dunia tanpa konflik, tanpa perbedaan kelas, sekat gender, ras, dan semacamnya. Yang menyatukannya adalah sepak bola.

Tak perlu Revolusi, Sepak Bola saja!

Marx akan merasa iri, menyaksikan kesuksesan sepak bola menghilangkan perbedaan kelas dalam identitas kultural, bahkan yang “kiri”-pun suka menonton. Tak perlu revolusi, penyingkiran kelas lain. Cukup dengan televisi, semua akan beres. Dari rakyat jelata, politisi, pedagang saham, atau siapa saja akan berada di depan televisi. Mereka adalah massa, berteriak bersama, merayakan kemenangan dan meratapi kekalahan. Inilah postmodern.

Genre yang Menyatu

Globalisasi; pengerutan dunia, kesadaran global, ekspansi global, dan kolonialisme gaya baru. Proyek kapitalisme global adalah globalisasi, di mana institusi modernitas (kapitaslisme) mengalami akselerasi (percepatan) menyentuh sudut bumi manapun, untuk siapapun, tak terbatas. Dan sepak bola adalah kendaraan yang tepat dan strategik untuk tujuan itu. Dan kita menikmati itu.

“Bisa nggak menafsir”

Awalnya biasa saja, terbatas, kurang populer, lalu tiba-tiba meledak, dibincang tiada henti, dimanapun dan oleh siapapun (ras, gender, dll). Jika sekedarnya saja, sepak bola tak lebih dari olah raga dan seni. Itu saja. Argumentasi itu buyar oleh serbuan interpretasi atau pemaknaan “sosial, politik, ekonomi dan kultur” terhadap sepak bola. Banyak kepentingan, memperebutkan makna. Menonton atau mengkonsumsi menu sepakbola adalah sebuah negosiasi makna antara yang memproduksi makna dan yang mengkonsumsi makna. Inilah tujuan menafsir; mengkonsumsi dan menyingkirkan makna yang perlu dan tidak perlu. Kan nggak nyambung, sepak bola dibumbui model wanita cantik, iklan otomotif, sampai mainan anak-anak. Saya pikir, inilah model rasionalitas postmodern yang nihilis, bercampur baur tanpa kejelasan bentuk.

Menonton=menafsir, Itu harus!

Cuma itu—yang saya pikir bisa dilakukan sekarang—sebagai alternatif [mungkin ada yang lain] selain mengisolasi diri dari determinasi media. Ruang waktu telah dikuasai. Dimanipulasi, dikonstruksi dan dilesatkan ke dalam ruang privat. Sepak bola tidak sekedar olah raga dan seni, silahkan menafsirkan sendiri konotasi di belakangnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home